Mengapa Dunia Fiksi Kini Dipenuhi Isekai, Transmigrator, Regressor, dan Reinkarnator? Perspektif Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah



"Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan amal saleh yang dahulu kami tinggalkan.' Tidak! Sungguh itu hanyalah ucapan yang diucapkannya saja..." (QS. Al-Mu'minun: 99–100)

Setiap zaman memiliki jenis hiburan yang digemari. Jika dahulu masyarakat menikmati kisah kepahlawanan atau roman, kini dunia hiburan dipenuhi cerita tentang tokoh yang mati lalu hidup kembali, kembali ke masa lalu, berpindah ke dunia lain, atau terlahir kembali sebagai orang yang berbeda.

Genre seperti Isekai, Transmigrator, Regressor, dan Reinkarnator mendominasi anime, manga, manhwa, donghua, web novel, hingga drama Asia. Ribuan judul mengusung pola yang hampir sama, namun tetap memiliki jutaan penggemar.

Fenomena ini bukan sekadar tren industri hiburan. Ia juga mencerminkan cara manusia modern memandang kehidupan, penyesalan, dan harapan. Sebagai seorang Muslim, kita perlu memahami fenomena ini dengan ilmu, agar tidak hanyut dalam arus budaya yang dapat memengaruhi akidah dan cara berpikir.

Memahami Istilah-Istilah yang Populer

Isekai adalah genre ketika tokoh utama berpindah ke dunia lain, biasanya dunia fantasi yang dipenuhi sihir, monster, atau kerajaan.

Transmigrator menggambarkan kesadaran seseorang berpindah ke tubuh orang lain, sering kali ke dalam dunia novel atau permainan.

Regressor adalah tokoh yang kembali ke masa lalu dengan membawa seluruh ingatan masa depannya sehingga dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan.

Reinkarnator adalah tokoh yang mati lalu lahir kembali sebagai individu baru, bahkan sering kali masih mengingat kehidupan sebelumnya.

Walaupun keempatnya berbeda, semuanya menawarkan satu hal yang sama: kesempatan kedua untuk menjalani kehidupan.

Mengapa Genre Ini Sangat Digemari?

Allah Ta'ala menciptakan manusia dengan berbagai harapan dan keinginan. Di antara tabiat manusia adalah menyesali kesalahan yang telah berlalu. Banyak orang pernah berpikir, "Seandainya dahulu aku memilih jalan yang berbeda."

Genre regressor menjual angan-angan tersebut.

Banyak pula orang yang merasa lelah menghadapi kerasnya kehidupan. Tekanan pekerjaan, masalah keluarga, kesulitan ekonomi, dan berbagai ujian membuat sebagian orang ingin "melarikan diri" sejenak dari kenyataan. Genre isekai menawarkan dunia yang tampak lebih indah daripada kehidupan nyata.

Selain itu, banyak cerita menghadirkan tokoh utama yang langsung memperoleh kekuatan luar biasa, kekayaan, atau kedudukan tinggi tanpa melalui perjuangan panjang. Hal ini memuaskan keinginan manusia untuk memperoleh hasil secara instan.

Tidak mengherankan jika genre seperti ini sangat mudah menarik perhatian.

Mengapa Mudah Membuat Ketagihan?

Industri hiburan modern memahami cara kerja perhatian manusia. Setiap akhir episode atau akhir bab dibuat menggantung agar penonton terus mengikuti cerita berikutnya.

Jika tidak dikendalikan, seseorang dapat menghabiskan berjam-jam setiap hari hanya untuk membaca atau menonton. Sedikit demi sedikit, waktu yang semestinya digunakan untuk menuntut ilmu, membaca Al-Qur'an, berzikir, membantu keluarga, atau bekerja justru habis untuk mengejar cerita yang tidak pernah selesai.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

«"Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang."
(HR. al-Bukhari)»

Seorang Muslim hendaknya berhati-hati terhadap segala sesuatu yang membuatnya lalai dari kewajiban kepada Allah.

Pandangan Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah

Islam tidak datang untuk mematikan seluruh bentuk hiburan. Namun Islam menetapkan batasan yang jelas.

Para ulama menjelaskan bahwa kisah rekaan yang tidak mengandung unsur haram, tidak mengajak kepada kemaksiatan, tidak mengandung kedustaan atas nama Allah dan Rasul-Nya, serta tidak melalaikan dari kewajiban, pada asalnya termasuk perkara yang diperselisihkan dan dinilai berdasarkan maslahat serta mudaratnya. Karena itu, seorang Muslim hendaknya memilih hiburan yang paling bersih dari syubhat dan paling sedikit mudaratnya.

Yang jauh lebih penting adalah menjaga akidah.

Konsep reinkarnasi sebagai keyakinan bahwa manusia akan hidup berkali-kali di dunia bertentangan dengan akidah Islam. Allah Ta'ala menjelaskan bahwa manusia hidup sekali di dunia, kemudian meninggal, memasuki alam barzakh, dibangkitkan pada hari kiamat, lalu dihisab sebelum menuju surga atau neraka.

Allah Ta'ala berfirman:

«"Hingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara mereka, ia berkata, 'Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya..."
(QS. Al-Mu'minun: 99–100)»

Ayat ini menunjukkan bahwa setelah kematian tidak ada kesempatan kembali ke dunia untuk memperbaiki kehidupan.

Demikian pula keyakinan tentang siklus kehidupan yang terus berulang, hukum karma sebagai penentu kelahiran berikutnya, atau keyakinan bahwa manusia dapat terus hidup dalam berbagai tubuh adalah keyakinan yang menyelisihi akidah Islam apabila diyakini sebagai kebenaran.

Karena itu, seorang Muslim wajib meyakini bahwa semua konsep tersebut hanyalah unsur cerita fiksi dan bukan kenyataan.

Ketika Hiburan Menjadi "Brainrot"

Belakangan muncul istilah brainrot. Ini bukan istilah medis, melainkan istilah populer di internet yang menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi jenis konten tertentu hingga memengaruhi cara berpikir dan kebiasaannya.

Seseorang mulai lebih mengenal tokoh-tokoh fiksi daripada para nabi, sahabat, atau ulama. Ia lebih bersemangat menunggu episode terbaru daripada menghadiri majelis ilmu. Ia lebih hafal alur ratusan cerita dibanding surah-surah pendek Al-Qur'an yang seharusnya dibaca dalam shalat.

Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian orang mulai membenci kehidupan nyata karena menganggap dunia fiksi jauh lebih menarik. Ada pula yang berangan-angan dapat berpindah ke dunia anime atau berharap dapat mengulang kehidupan sebagaimana tokoh dalam cerita.

Jika angan-angan seperti ini mulai menguasai hati, maka hiburan telah berubah menjadi fitnah.

Islam Mengajarkan Menerima Takdir dan Memperbaiki Diri

Seorang Mukmin diajarkan untuk ridha terhadap takdir Allah, bersabar atas musibah, bersyukur atas nikmat, dan segera bertaubat ketika melakukan kesalahan.

Islam tidak mengajarkan manusia untuk terus hidup dalam penyesalan. Masa lalu memang tidak dapat diulang, tetapi pintu taubat masih terbuka selama ruh belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari arah barat.

Karena itu, solusi Islam bukanlah membayangkan kehidupan kedua, melainkan memperbaiki kehidupan yang sedang dijalani.

Allah memberikan kesempatan kepada kita hari ini untuk menambah amal saleh. Kesempatan inilah yang akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat.

Penutup

Tidak semua hiburan harus dijauhi. Namun seorang Muslim harus memahami bahwa hati sangat mudah dipengaruhi oleh apa yang terus-menerus ia lihat, dengar, dan pikirkan.

Dunia fiksi menawarkan kehidupan yang tampak sempurna. Tokohnya bisa kembali ke masa lalu, berpindah ke dunia lain, atau hidup kembali setelah mati. Akan tetapi, semua itu hanyalah khayalan.

Dalam Islam, kehidupan ini hanya satu kali. Tidak ada save point, tidak ada restart, tidak ada regresi, dan tidak ada reinkarnasi. Yang ada hanyalah umur yang terus berkurang, amal yang terus dicatat oleh para malaikat, dan hari ketika setiap manusia berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan seluruh hidupnya.

Maka jadikanlah hiburan sekadar selingan, bukan tujuan hidup. Jangan sampai kita terlalu lama tenggelam dalam samudra fiksi hingga melalaikan Al-Qur'an, majelis ilmu, ibadah, dan amal saleh. Sebab yang akan menyelamatkan kita kelak bukanlah kisah-kisah khayalan yang kita hafal, melainkan iman yang benar dan amal yang diterima oleh Allah Ta'ala.