Dakwah Bukan "Jualan Surga": Menjaga Tauhid, Adab, dan Persatuan


Penolakan terhadap ceramah Ustadz Abdul Somad di Kutai Barat kembali memunculkan perdebatan di ruang publik. Di tengah berbagai komentar yang muncul, salah satu narasi yang banyak disorot adalah anggapan bahwa dakwah hanya sebatas "jualan surga". Padahal, dalam ajaran Islam, menyampaikan kabar tentang surga dan neraka merupakan bagian dari risalah para nabi sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah.

Seorang dai tidak memiliki surga untuk "dijual". Tugasnya hanyalah menyampaikan wahyu, mengajak manusia kepada tauhid, serta memberikan kabar gembira dan peringatan sesuai tuntunan agama. Karena itu, kritik terhadap seorang penceramah seharusnya dilakukan dengan cara yang ilmiah, santun, dan berlandaskan dalil, bukan dengan istilah yang merendahkan dakwah itu sendiri.

Islam juga mengajarkan bahwa perbedaan pendapat tidak boleh berujung pada ancaman, intimidasi, atau tindakan melawan hukum. Setiap Muslim dituntut menjaga akhlak, menghormati sesama, serta menyelesaikan persoalan melalui jalur yang benar. Di sisi lain, pemerintah memiliki kewajiban memberikan perlindungan kepada seluruh warga negara dalam menjalankan kegiatan yang sah sesuai aturan yang berlaku.

Dalam berdakwah, hikmah menjadi prinsip utama. Menyampaikan kebenaran tidak berarti mengurangi ajaran tauhid, tetapi dilakukan dengan kelembutan, kebijaksanaan, dan mempertimbangkan kondisi masyarakat. Persatuan bangsa juga harus terus dijaga tanpa mengorbankan prinsip-prinsip akidah yang menjadi dasar keimanan seorang Muslim.




Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dakwah seharusnya membawa ilmu, memperkuat tauhid, memperbaiki akhlak, serta menjaga persaudaraan di tengah masyarakat. Dengan menjunjung tinggi hikmah, adab, dan keadilan, umat Islam dapat tetap istiqamah menyampaikan kebenaran sekaligus berkontribusi menjaga kedamaian dan persatuan bangsa.


Bagaimana pendapatmu tentang hal ini? baca : Penolakan Ceramah UAS di Kutai Barat