Harga Murah Boleh, Tapi Jangan Sampai Peternak Menanggung Derita: Saatnya Menghargai Mereka yang Menjaga Ketersediaan Pangan

Di setiap sudut pasar tradisional, toko daging, hingga media sosial, kita sering mendengar kalimat yang sama: "Mahal sekali." Tidak sedikit masyarakat yang berharap harga ayam, kambing, sapi, telur, maupun kebutuhan pokok lainnya selalu murah. Keinginan tersebut tentu sangat wajar. Siapa yang tidak ingin mendapatkan barang berkualitas dengan harga yang terjangkau?

Namun, ada satu pertanyaan yang jarang sekali muncul.

Apakah harga murah itu masih memberikan keuntungan yang layak bagi peternak?

Pertanyaan sederhana ini sering terlupakan. Padahal, di balik setiap kilogram daging yang kita beli, ada peternak yang bekerja tanpa mengenal hari libur. Mereka bangun sebelum matahari terbit, memberi makan ternak, membersihkan kandang, mengobati hewan yang sakit, hingga menghadapi berbagai risiko yang tidak sedikit.

Sayangnya, ketika harga turun, justru peternaklah yang paling pertama merasakan dampaknya.

Harga Murah Tidak Selalu Berarti Kabar Baik

Banyak orang menganggap turunnya harga ternak merupakan kabar menggembirakan. Konsumen bisa membeli lebih murah, pedagang bisa menjual lebih cepat.

Namun bagi peternak, kondisi tersebut belum tentu membawa kebahagiaan.

Bisa jadi biaya produksi justru sedang tinggi.

Harga pakan naik.

Obat-obatan meningkat.

Vitamin bertambah mahal.

Biaya listrik naik.

Upah pekerja ikut meningkat.

Belum lagi risiko kematian ternak akibat penyakit ataupun cuaca yang tidak menentu.

Ketika seluruh biaya tersebut naik sementara harga jual justru turun, siapa yang menanggung kerugian?

Jawabannya adalah peternak.

Mereka tetap harus memberi makan ternak setiap hari. Hewan tidak bisa berhenti makan hanya karena harga pasar sedang turun.

Peternak Tidak Bisa Menekan Biaya Seenaknya

Berbeda dengan sebagian usaha lain, peternakan memiliki biaya tetap yang tidak bisa dihindari.

Seekor kambing tetap membutuhkan pakan.

Seekor sapi tetap membutuhkan air.

Ayam tetap membutuhkan vitamin.

Kandang tetap harus dibersihkan.

Jika salah satu kebutuhan tersebut dikurangi demi menghemat biaya, akibatnya justru fatal.

Ternak bisa sakit.

Bobot badan turun.

Kualitas daging menurun.

Bahkan bisa mati.

Artinya, ketika masyarakat meminta harga terus diturunkan, sering kali peternak tidak memiliki ruang lagi untuk mengurangi biaya.

Yang Terlihat Hanya Harga Jual

Masyarakat biasanya hanya melihat harga akhir.

Misalnya seekor kambing dijual Rp3 juta.

Banyak yang langsung berpikir peternak mendapatkan keuntungan besar.

Padahal belum tentu.

Di balik harga tersebut terdapat biaya pembelian bibit, pakan selama berbulan-bulan, obat, vitamin, transportasi, tenaga kerja, penyusutan kandang, hingga risiko jika ternak mati sebelum sempat dijual.

Belum lagi modal yang tertahan cukup lama.

Seekor kambing tidak bisa dibesarkan hanya dalam beberapa hari.

Perlu waktu berbulan-bulan.

Selama waktu tersebut uang peternak terus berputar untuk membiayai pemeliharaan.

Ketika Harga Terlalu Murah

Jika harga terus ditekan, peternak mulai mengalami kerugian.

Awalnya mungkin mereka masih bertahan.

Tabungan digunakan.

Pinjaman mulai bertambah.

Lama-kelamaan banyak yang memilih berhenti beternak.

Inilah yang sering tidak disadari masyarakat.

Saat jumlah peternak berkurang, populasi ternak ikut menurun.

Produksi daging berkurang.

Pasokan menyusut.

Akhirnya harga justru melonjak tinggi.

Ironisnya, masyarakat kembali mengeluh karena harga menjadi mahal.

Padahal salah satu penyebabnya adalah banyak peternak yang sebelumnya tidak mampu bertahan akibat harga yang terlalu rendah.

Semua Ingin Murah

Dalam kondisi ekonomi yang sulit, semua orang tentu ingin berhemat.

Hal tersebut dapat dipahami.

Namun murah bukan berarti harus mengorbankan orang lain.

Kita tentu tidak ingin gaji sendiri dipotong.

Tidak ingin hasil usaha dihargai terlalu rendah.

Tidak ingin bekerja keras tetapi tetap rugi.

Perasaan yang sama juga dimiliki peternak.

Mereka pun memiliki keluarga.

Memiliki anak yang harus sekolah.

Memiliki kebutuhan sehari-hari.

Memiliki cicilan usaha.

Mereka juga berhak memperoleh keuntungan yang wajar dari kerja kerasnya.

Peternak Adalah Penjaga Ketahanan Pangan

Sering kali peternak hanya diingat ketika menjelang Idul Adha atau ketika harga daging naik.

Padahal peran mereka jauh lebih besar.

Merekalah yang memastikan masyarakat tetap memperoleh pasokan protein hewani setiap hari.

Tanpa peternak, tidak ada daging.

Tidak ada susu.

Tidak ada telur.

Tidak ada kambing aqiqah.

Tidak ada sapi kurban.

Ketahanan pangan nasional tidak hanya bergantung pada pemerintah.

Tetapi juga pada jutaan peternak kecil yang setiap hari bekerja di kandang-kandang sederhana.

Menghargai Peternak Bukan Berarti Menolak Harga Terjangkau

Tentu bukan berarti masyarakat harus membeli dengan harga setinggi-tingginya.

Yang dibutuhkan adalah harga yang adil.

Harga yang mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus memberikan keuntungan yang layak kepada peternak.

Inilah keseimbangan yang seharusnya dijaga.

Jika salah satu pihak terus dirugikan, maka rantai ekonomi tidak akan berjalan sehat.

Peran Pemerintah Sangat Penting

Pemerintah memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan tersebut.

Ketersediaan pakan perlu diperhatikan.

Distribusi perlu dipermudah.

Impor harus diatur secara bijaksana agar tidak memukul harga peternak lokal.

Bantuan teknologi, pelatihan, hingga akses pembiayaan juga perlu diperluas.

Dengan demikian biaya produksi dapat ditekan tanpa harus mengorbankan kualitas maupun kesejahteraan peternak.

Konsumen Juga Bisa Berkontribusi

Sebagai konsumen, kita juga memiliki peran.

Tidak semua harga murah merupakan pilihan terbaik.

Jika selisih harga hanya sedikit tetapi produk berasal dari peternak lokal yang bekerja dengan baik, membeli dari mereka merupakan bentuk dukungan terhadap keberlangsungan usaha rakyat.

Kita mungkin mengeluarkan sedikit lebih banyak hari ini.

Namun kita ikut menjaga agar peternak tetap mampu berproduksi di masa depan.

Dalam Islam, Keadilan Menjadi Prinsip Utama

Islam mengajarkan agar setiap transaksi dilakukan dengan penuh keadilan.

Tidak boleh ada pihak yang dizalimi.

Rasulullah ﷺ melarang segala bentuk kezaliman dalam muamalah.

Penjual tidak boleh mengambil keuntungan dengan cara yang batil.

Sebaliknya pembeli juga tidak boleh menekan harga hingga merugikan saudaranya.

Allah Ta'ala berfirman:

«"Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil."»

Prinsip ini mengajarkan bahwa perdagangan bukan sekadar mencari harga termurah, tetapi juga menjaga hak setiap pihak.

Ketika peternak memperoleh keuntungan yang layak, mereka dapat terus memelihara ternak dengan baik.

Masyarakat pun memperoleh produk yang berkualitas.

Semua pihak mendapatkan manfaat.

Saatnya Mengubah Cara Pandang

Sudah saatnya masyarakat mulai melihat peternakan dari sudut pandang yang lebih luas.

Di balik seekor kambing yang sehat terdapat kerja keras selama berbulan-bulan.

Di balik sebutir telur terdapat biaya pakan, tenaga, dan perhatian setiap hari.

Di balik sepotong daging terdapat orang-orang yang rela bekerja sejak subuh hingga malam demi memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap tersedia.

Mereka bukan sekadar penjual.

Mereka adalah produsen pangan yang menopang kehidupan banyak orang.

Penutup

Keinginan mendapatkan harga murah adalah sesuatu yang manusiawi. Namun jangan sampai keinginan tersebut membuat kita lupa bahwa ada peternak yang harus tetap hidup dari hasil usahanya.

Harga yang adil bukan hanya menguntungkan penjual, tetapi juga menjaga keberlangsungan produksi pangan dalam jangka panjang.

Jika peternak terus merugi, semakin banyak yang meninggalkan profesinya. Ketika jumlah peternak menurun, pasokan ikut berkurang. Pada akhirnya, masyarakat sendiri yang akan merasakan dampaknya melalui kenaikan harga dan berkurangnya ketersediaan pangan.

Menghargai peternak bukan berarti rela membayar semahal-mahalnya. Menghargai peternak berarti memahami bahwa di balik setiap harga ada biaya, tenaga, waktu, dan risiko yang tidak sedikit. Sebuah transaksi yang baik adalah transaksi yang membawa manfaat bagi kedua belah pihak, bukan hanya menguntungkan salah satunya.

Mari belajar menjadi konsumen yang bijak. Mencari harga terbaik tentu boleh, tetapi jangan sampai mengabaikan hak orang-orang yang telah bekerja keras menyediakan kebutuhan pangan bagi kita semua. Sebab, ketika peternak sejahtera, ketahanan pangan akan lebih kuat, kualitas produk akan lebih baik, dan seluruh masyarakat akan ikut merasakan manfaatnya.