Terjebak Mitos atau Sesuai Syariat? Bongkar Kekeliruan Ritual Bulan Muharram yang Jarang Disadari!



Bulan Al-Muharram selalu hadir membawa kesucian dan keberkahan yang luar biasa. Dijuluki oleh Rasulullah ﷺ sebagai Syu’batullah (Bulan Allah), Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram yang mulia. Di bulan ini, setiap amalan saleh dilipatgandakan pahalanya, sementara kemaksiatan dan kezaliman diperberat bobot dosanya. Sebuah momentum emas bagi setiap muslim yang merindukan keselamatan (Assalamah) serta kebaikan utuh (Al-Afiah) di dunia dan akhirat.

Namun sayangnya, keagungan bulan suci ini kerap kali tertutup oleh tebalnya kabut tradisi lokal, ritual mistis, hingga keyakinan nasib sial. Alih-alih mendulang pahala, sebagian masyarakat justru terjebak dalam percampuran antara adat keduniawian dengan ritual ibadah yang melanggar batas-batas syariat.

Setidaknya, ada tiga kekeliruan besar tahunan di bulan Muharram yang perlu diluruskan secara ilmiah demi menjaga kemurnian akidah kita:

  1. Tradisi Ratapan Fisik (Niyahah): Mengekspresikan duka atas syahidnya cucu Rasulullah ﷺ, Al-Husain bin Ali radhiyallahu 'anhuma di Karbala, dengan cara memukul dada atau melukai tubuh. Padahal, Rasulullah ﷺ melarang keras tindakan meratap yang merusak esensi iman terhadap takdir ini.

  2. Keyakinan Bulan Sial (Thiyaroh): Mitos bahwa Muharram atau bulan Suro adalah waktu yang "wingit" dan membawa malapetaka, sehingga muncul pamali untuk menikah atau memulai bisnis. Secara akidah, menganggap waktu tertentu membawa sial adalah hal yang dilarang keras dalam Islam.

  3. Ritual Jamasan dan Melarung Sesaji: Praktik memandikan benda pusaka secara mistis atau melarung sesaji ke laut/gunung demi "bersih desa". Mengirimkan persembahan kepada kekuatan gaib selain Allah adalah bentuk pelanggaran tauhid yang paling mendasar.

Lantas, bagaimana cara Salafus Shalih (generasi awal Islam) mengagungkan bulan mulia ini? Islam sebenarnya telah menyediakan ladang pahala yang bersih dan menenteramkan jiwa tanpa perlu menguras harta untuk sesaji, seperti memperbanyak puasa sunah, khususnya Puasa Tasu’a (9 Muharram) dan Puasa Asyura (10 Muharram) yang dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu.

Meninggalkan tradisi lama memang butuh keberanian besar demi meraih hidayah. Apakah amalan Muharram kita selama ini sudah searah dengan petunjuk Nabi ﷺ atau justru terhalang sekat tradisi?


Bagaimana dengan pendapatmu mengenai hal ini? baca selengkapnya: Bulan Muharram