Viral Lagu Lalaki Langit Lalanang Bejat Karya Bupati Purwakarta Om Zein Dikecam Publik: Lirik, Terjemahan, dan Duduk Perkaranya
Belakangan ini, jagat media sosial dihebohkan oleh beredarnya sebuah karya seni berbahasa Sunda yang memicu kontroversi panas. Karya tersebut adalah lagu berjudul "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" yang diciptakan oleh Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, atau yang akrab disapa Om Zein. Alih-alih mendapatkan apresiasi, lagu tersebut justru panen kecaman dari berbagai pihak, mulai dari aktivis perempuan, anggota DPR RI, hingga lembaga bantuan hukum.
Duduk perkara dari polemik ini berakar pada isi lirik lagu yang dinilai sarat akan stereotip negatif dan merendahkan martabat kaum perempuan. Liriknya dianggap melanggengkan budaya patriarki, melegitimasi ketimpangan sosial, serta menormalisasi maskulinitas agresif berupa kekerasan verbal. Beberapa tokoh publik, termasuk anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya, turut melayangkan kritik tajam karena menganggap narasi seksis seperti itu tidak sepantasnya dilanggengkan, terlebih oleh seorang pemimpin daerah yang seharusnya memiliki perspektif gender yang bijak dalam bertindak maupun membuat kebijakan.
Gelombang protes kian memuncak ketika Lembaga Jabar Bantuan Hukum (JBH) secara resmi melayangkan somasi terbuka kepada Om Zein melalui Surat Nomor 023/SOM/JBH/VII/2026. JBH menuntut agar lagu tersebut segera dihapus dan ditarik dari seluruh platform digital karena dinilai melanggar norma dan melecehkan perempuan secara verbal.
Merespons bola salju kontroversi yang terus menggelinding, Bupati Purwakarta akhirnya buka suara dan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat luas. Om Zein menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak berniat untuk menyinggung, menyudutkan, atau mendiskreditkan pihak manapun, khususnya kaum perempuan.
Ia membeberkan fakta dan latar belakang bahwa lirik lagu tersebut sebenarnya diadopsi dari sebuah puisi yang ia tulis sendiri pada tahun 2020. Pada masa itu, ia belum menjabat sebagai bupati dan masih menjalani fase kehidupan sebagai seorang pengembara yang nakal atau bragajul. Lagu tersebut murni merupakan refleksi spiritual dan otokritik atas masa lalunya yang kelam. Kalimat kontroversial di dalamnya lahir dari perenungannya yang bersyukur diciptakan sebagai laki-laki, karena ia merasa tidak akan sanggup jika harus menghadapi kerasnya fase tersesat itu apabila terlahir sebagai seorang perempuan.
Meskipun puisi itu digubah menjadi lagu oleh seorang seniman pada tahun 2023 dan dipublikasikan di akun media sosial pribadinya tanpa melibatkan Aparatur Sipil Negara (ASN), Om Zein memilih berlapang dada. Sebagai langkah konkret pasca-kritik massal, ia akhirnya resmi menghapus (take down) video klip lagu tersebut dari platform digitalnya dan berencana melakukan konsultasi lebih lanjut dengan kuasa hukumnya terkait somasi yang diterima.
