Banjir Bandang Nepal Mengerikan, Sekitar 168 Orang Tewas dan 1.300 Masih Hilang
Banjir bandang dahsyat menerjang wilayah perbatasan Nepal-Tibet pada Rabu, 26 Agustus 2026. Bencana tersebut menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar, kerusakan infrastruktur, serta membuat lebih dari seribu orang hingga kini masih dinyatakan hilang.
Laporan terbaru menyebut sedikitnya 168 orang meninggal dunia, sementara lebih dari 1.300 orang masih hilang di wilayah Nepal dan Tibet. Angka tersebut masih dapat berubah seiring berlangsungnya proses pencarian dan evakuasi.
Wilayah Rasuwa dan Nuwakot di Nepal termasuk kawasan yang terdampak parah. Derasnya aliran air yang membawa lumpur, batu, es, dan material longsoran menerjang kawasan permukiman. Sejumlah rumah, jalan, dan jembatan mengalami kerusakan atau bahkan tersapu banjir.
Tim penyelamat kini terus berupaya menjangkau lokasi terdampak dan mencari warga yang masih hilang. Namun, proses evakuasi menghadapi berbagai kendala karena medan pegunungan yang sulit serta sejumlah akses transportasi yang rusak.
Bukan Dipicu Gempa
Pada awal kejadian, aktivitas seismik yang muncul sempat dikaitkan dengan gempa bumi. Namun, analisis United States Geological Survey (USGS) menunjukkan bahwa aktivitas tersebut bukan gempa.
Bencana diduga berkaitan dengan runtuhnya massa gletser yang kemudian membawa material es dan batu dalam jumlah besar menuju kawasan lembah. Aliran material tersebut berkembang menjadi banjir bandang dan debris flow yang bergerak cepat.
Kondisi geografis kawasan Himalaya membuat aliran material dari wilayah pegunungan dapat mencapai kawasan rendah dengan kekuatan besar dan menghancurkan berbagai bangunan yang berada di jalurnya.
Turis dan Warga Asing Ikut Terdampak
Kawasan perbatasan Nepal-Tibet juga menjadi jalur perjalanan wisatawan dan peziarah menuju kawasan Gunung Kailash. Karena itu, sejumlah warga negara asing berada di kawasan tersebut ketika bencana terjadi.
Pemerintah dan tim penyelamat masih melakukan pendataan terhadap orang-orang yang hilang maupun terdampak.
Kondisi WNI di Nepal
Bencana ini turut menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Kementerian Luar Negeri RI menyebut terdapat sekitar 45 WNI di Nepal.
Hingga Kamis, 27 Agustus 2026, belum ada laporan mengenai WNI yang menjadi korban langsung banjir bandang tersebut. Pemantauan terus dilakukan oleh perwakilan RI dan komunitas WNI di Nepal.
Sementara itu, pencarian korban masih berlangsung. Pemerintah Nepal bersama tim penyelamat terus berusaha membuka akses menuju daerah yang terisolasi, mengevakuasi warga, dan menyalurkan bantuan.
Dengan jumlah korban meninggal dan hilang yang masih tinggi, banjir bandang Nepal menjadi salah satu bencana besar yang tengah menjadi perhatian di kawasan Himalaya.
simak lebih lengkapnya : Banjir Bandang Nepal